Forever Starts Today

Forever Starts Today

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 15, 2025
Hari itu langit warnanya oranye, sebentar lagi malam. Hujan baru aja reda, tanah masih basah, dan dua bocah kecil duduk di bawah pohon mangga dekat halaman rumah. Bocah laki-laki itu megang sepotong cokelat yang udah setengah meleleh, sementara bocah perempuan di sebelahnya sibuk nyoba mengikat rambutnya yang acak-acakan. Mereka sama-sama ngos-ngosan habis main, tapi masih ketawa kayak nggak ada yang lebih penting di dunia selain hari itu. "Aku nggak mau kamu hilang," kata si bocah laki-laki tiba-tiba, polos banget. Si perempuan cuma melirik sambil nyengir. "Kenapa harus hilang? Kan rumahku deket." Bocah laki-laki itu cemberut, lalu nyodorin cokelatnya. "Ya, tapi kalau nanti kita udah gede gimana? Kalau kamu lupa aku?" Ada jeda sebentar. Senja makin pekat. Lalu dengan nada penuh keyakinan, bocah perempuan itu jawab pelan tapi mantap: "Kalau gitu... kita janji aja. Sampai gede nanti, kita bareng terus. Sampai nikah." Suara jangkrik mulai terdengar. Hanya ada mereka berdua, dua anak kecil yang bahkan nggak ngerti betapa beratnya kata-kata yang barusan diucapin. Tapi buat mereka, janji itu terasa nyata-kayak ukiran di hati yang nggak bisa dihapus. Tahun-tahun pun lewat. Mereka tumbuh, main petak umpet diganti PR sekolah, boneka diganti HP, dan cokelat murah diganti minuman kekinian. Tapi satu hal yang nggak pernah berubah: kenangan sore itu. Dan sekarang, mereka berdua udah duduk di bangku SMA, kelas 11. Janji masa kecil itu masih ada... tapi entah, apakah janji itu bakal jadi kenyataan, atau cuma tinggal kenangan manis yang perlahan pudar.
All Rights Reserved
#14
clingy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Blueprint Pelarian Villain
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines