P.S :
Tidak ada yang benar-benar meledak di sini.
Hanya percakapan yang terlihat biasa,
diam yang sedikit lebih panjang dari seharusnya,
dan perasaan yang tidak selalu diberi nama.
Cerita ini bergerak dengan caranya sendiri-
kadang pelan, memberi ruang untuk memahami,
kadang lebih cepat, seperti hidup yang tidak selalu menunggu.
Di antara itu semua, ada dua anak yang tumbuh dengan caranya masing-masing.
Seorang bocah yang dulu sering dianggap kurang-
gendut, kesulitan membaca, tertinggal dalam banyak hal-
yang entah bagaimana, perlahan menemukan jalannya sendiri...
menjadi seseorang yang tidak lagi bisa dipandang sederhana.
Dan seorang bocah pendiam, yang dulu lebih banyak menyimpan daripada mengungkapkan-
yang pelan-pelan belajar membuka dirinya...
menjadi lebih hidup, lebih ekspresif, dan tanpa sadar-lebih percaya diri.
Mereka tidak pernah benar-benar asing.
Hanya dipisahkan oleh hal-hal kecil yang tidak selalu sempat dijelaskan.
Cerita ini tidak menawarkan jawaban.
Tapi di antara langkah yang kadang melambat dan kadang dipercepat,
ada sesuatu yang perlahan terasa lebih jelas-tanpa harus dicari.
Tentang perasaan yang tidak selalu diminta untuk dimengerti,
tentang hubungan yang tidak sempurna tapi tetap dijaga,
dan tentang hal-hal kecil yang diam-diam menentukan segalanya.
Dan mungkin, tanpa disadari, ada bagian dari diri yang ikut berjalan di dalamnya.
Tentang Arga dan Nanda-
apakah mereka akan benar-benar berjalan ke arah yang sama...
atau sejak awal, mereka hanya dua rumah yang saling berhadapan,
cukup dekat untuk saling melihat,
tapi tidak pernah benar-benar menjadi satu?
Atau...
mereka memang tidak pernah perlu mengejar apa pun,
karena tanpa banyak suara, tanpa banyak pengakuan-
langkah mereka, entah sejak kapan,
selalu jatuh di arah yang sama.
All Rights Reserved