Langit sore itu membara, jingga bercampur merah, seperti hati mereka yang diam-diam bergejolak. Di bangku taman yang sudah menjadi saksi bisu kebersamaan mereka selama bertahun-tahun, dua sahabat itu duduk berdampingan, tapi rasanya seperti ada jurang tak terlihat di antara mereka.
Dia melirik ke arah sahabatnya-senyum itu, cara dia menyelipkan rambut ke belakang telinga, semuanya terasa begitu akrab. Begitu nyaman. Tapi di balik kenyamanan itu, ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tak pernah berani mereka bicarakan.
"Eh, kenapa diem aja? Tumben nggak nyerocos," katanya sambil tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
Dia hanya menggeleng, menahan ribuan kata yang ingin meluncur. Kata-kata yang sejak lama tertahan di hati. Aku cinta kamu. Tapi dia tahu, ucapan itu bisa merusak semua yang sudah mereka punya.
Sore berganti malam, dan mereka tetap diam. Hanya candaan ringan, hanya tawa yang menutupi kerumitan di dalam hati mereka. Mereka tahu, sekali perasaan itu diungkapkan, tak akan ada jalan kembali.
Dan mereka terlalu takut. Takut kehilangan persahabatan yang begitu berharga. Takut jika rasa itu hanya akan membawa canggung, membawa jarak yang tak bisa diperbaiki.
Jadi mereka memilih untuk pura-pura. Pura-pura bahwa apa yang mereka rasakan hanyalah persahabatan. Pura-pura bahwa hati mereka tidak saling memanggil.
Tapi di balik semua itu, ada harapan kecil yang terus hidup. Harapan bahwa suatu hari, mereka akan menemukan keberanian. Atau mungkin... takdir akan berbicara lebih dulu.
Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya.
Namun, malam itu mengubah segalanya.
Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan.
Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis.
"Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh.
Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.