Diagnosis Cinta [LENGKAP]

Diagnosis Cinta [LENGKAP]

  • WpView
    Reads 2,395
  • WpVote
    Votes 110
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadComplete Fri, Sep 19, 2025
Kisah ini dimulai saat Aluna ditugaskan untuk rotasi di bawah bimbingan langsung Arion-sebuah kabar yang membuat sebagian besar koas lain pucat pasi. Mereka tahu betul betapa ketat, disiplin, dan tak kenalnya ampun dokter muda itu. Pertemuan pertama mereka bukan hanya sekadar tatap muka antara pembimbing dan murid, melainkan awal dari serangkaian kekacauan, miskomunikasi, dan momen-momen lucu yang tak terduga. Aluna dengan spontanitasnya yang kadang berantakan bertabrakan dengan Arion yang kaku bak mesin, menciptakan percikan yang tak seorang pun menduga bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat. Hubungan profesional yang dingin perlahan-lahan berubah menjadi sebuah proses diagnosis yang rumit-bukan untuk pasien, melainkan untuk hati mereka sendiri. Arion yang terbiasa menutup rapat ruang emosinya mulai terusik oleh tawa ceroboh Aluna, sementara Aluna yang selalu berusaha terlihat kuat diam-diam belajar bahwa bahkan hati yang paling beku pun bisa mencair. Akankah "Sang Robot" menemukan kehangatan dalam kekacauan Aluna? Dan mampukah Aluna mengendalikan kata-katanya demi sebuah diagnosis yang paling penting: cinta? *** . . . . . Rank: #3 di Pembimbing (Sept 2025)
All Rights Reserved
#174
atasan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Nala dan Mas Juragan
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • SASMITA CANDALA (21+)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines