Ishaq Sulaiman, pemuda yang di besarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat kental dengan keagamaan, ayahnya pemilik restoran timur tengah dan ibunya full menjadi ibu rumah tangga, seorang anak tunggal, rajin ibadah, rajin bekerja, patuh terhadap kedua orang tua, pintar, dan pastinya pandai menjaga pandangan. Berkat didikan keluarga yang menerapkan sunnah ala nabi, Ishaq tumbuh menjadi lelaki dewasa yang matang dan nyaris sempurna dalam segala aspek. Usianya kini sudah 25 tahun, dalam hidupnya tidak pernah mengenal kata pacaran, namun suatu ketika saat ia sedang membantu jualan sang ayah, tidak sengaja bola matanya bertemu dengan salah satu wanita bercadar yang membuat hatinya bergetar, Namanya Aisha Muthalib, Dia adalah putri kedua dari seorang kyai terkenal di Karawang. Dari sorot matanya sudah memancarkan aura keteduhan. Itu pertama kalinya Ishaq jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka tidak sempat berkenalan karena saling menjaga pandangan. Entah kenapa Ishaq ingin mengenal lebih dalam tentang pribadi Aisha. Satu satunya petunjuk adalah buku novel bernuansa islami yang terjatuh saat Aisha hendak membayar pesanan nasi briyani yang sudah ia pesan. Di balik cadar hitamnya ia memiliki suara yang lembut dan melodius.
" Totalnya berapa mas?"
Tutur Aisha membuka dompet kecilnya.
" Semuanya jadi 21.500"
Aisha memberikan selembaran uang kertas dan tiga koin uang logam pecahan seribu.
" Ini kelebihan mba uangnya !"
Ishaq mengembalikan hak si customer.
" Tak apa, masukan infaq Palestine saja, mas"
Gadis berjubah serba hitam itu pun berlalu dengan cepat. Ia menyebrang di zebra cross menuju masjid Al jihad yang berada di depan lapangan Karangpawitan.
" Mba, maaf bukunya tertinggal !"
Namun Aisha sudah menghilang dari peredaran. Siang itu ada jadwal kajian rutin muslimah yang di selenggarakan oleh pemuda/i hijrah Karawang. gadis pemilik manik hazel itu pasti sedang mengikuti kajian tersebut. Judul novel itu sesuai dengan nama pemiliknya yakni bertajuk " Aisyah"
Alle Rechte vorbehalten