Wijaya menjelaskan ketidaktahuan Zara yang daritadi masih mengunci rapat mulutnya. Entah kenapa, tatapan laki-laki ini, Mas Rafli, sangat mengintimidasinya sejak tadi.
"Oh pantes." Gumam Zara pelan.
"Pantes apa?" ucap Mas Rafli yang mendengarnya. Ia menatap gadis rambut coklat yang ujungnya terlihat di cat warna pink. Merasa kaget, Zara meringis.
"Pantes gue ga tahu, kan lo cabut." Jawab Zara, kemudian menyesap kopinya yang sudah datang dari tadi. Ia masih setia memegang kopinya, enggan menaruhnya lagi di meja. Gugup.
Menarik. Batin Mas Rafli.