Diantara 𝐆𝐞𝐧 & 𝐃𝐚𝐫𝐚𝐡 (𝐎𝐍 𝐆𝐎𝐈𝐍𝐆)
PROLOG
Mereka bilang, kembar itu selalu punya ikatan yang tidak bisa diputus.
Satu rahim.
Satu darah.
Satu wajah.
Tapi tidak ada yang pernah bertanya,
bagaimana rasanya hidup dengan bayangan diri sendiri
yang justru paling bisa melukai.
Kevan Alvaro Pratama berdiri di depan kaca rumah sakit, menatap pantulan wajah yang terlalu dikenalnya. Mata itu sama. Garis rahang itu sama. Bahkan bekas luka kecil di alis kanansama persis.
Bedanya hanya satu.
Pantulan itu sedang tertawa.
Kevan tidak.
Di balik dinding kaca, Kevin Alzaka Pratama tertawa keras, dikelilingi suara orang-orang. Seperti biasa. Hidup. Berisik. Penuh warna. Dunia seolah selalu punya ruang untuknya.
Kevan mengepalkan tangannya.
Ia bisa merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya.
Bukan sakit.
Bukan marah.
Lebih seperti... kosong yang menekan.
"Kontrol," bisiknya pada diri sendiri.
Detak jantungnya teratur. Terlalu teratur. Seolah emosinya dipaksa berjalan di garis lurus yang sempit. Kevan tahu, jika ia keluar sedikit saja dari garis itu, semuanya bisa runtuh.
Dan Kevin...
selalu berdiri terlalu dekat dengan batas itu.
Kevan menyayangi adiknya.
Ia tahu itu.
Tapi rasa sayang itu tidak hangat.
Tidak lembut.
Tidak seperti yang seharusnya dimiliki seorang kakak.
Kadang, rasa itu berubah jadi keinginan untuk melindungi.
Kadang, berubah jadi dorongan untuk menjauh sejauh mungkin.
Karena Kevan tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun
bahkan Kevin sendiri.
Ada sesuatu di dalam darahnya.
Sesuatu yang diwariskan, tapi tidak pernah diminta.
Sesuatu yang membuat perasaan datang dan pergi tanpa izin.
Dan suatu hari nanti,
darah yang sama itu bisa menjadi alasan
ia melukai satu-satunya orang yang ingin ia lindungi.
Di balik kaca, Kevin menoleh.
Pandangan mereka bertemu sesaat.
Kevin tersenyum lebar.
Seperti biasa.
Kevan memalingkan wajah lebih dulu.
Karena ia takut,
jika ia menatap terlalu lama,
ia akan lupa caranya mengendalikan diri.