Hujan...
Engkau menghampiri juga ke bumi pada akhirnya,
Rintik pertamamu kala menyentuh atap rumahku terdengar begitu nyaring seindah lagu Harmoni dari Gita Goetawa,
Membuat rerumputan depan halaman rumah mulai menari dan melenggok dalam irama angin yang tetiba ikut berbisik di pagi Senin ini,
Ketahuilah wahai hujan,
Sejujurnya sebelumnya,
aku sudah penat menanti hadirmu,
Bunga-bunga di pekarangan rumahku kemarin sudah pada layu,
Bukannya aku enggan untuk menyirami mereka,
Melainkan karena air sumur pun mulai mengering,
Hujan,
Meski kau tiba sedikit terlambat,
Tetapi engkau adalah tetap sebuah rahmat dan berkah,
Tatkala suaramu menyapu setiap helai daun-daun bunga keladi,
Di saat curahmu mengguyur rumput-rumput yang semakin menguning diterpa terik mentari,
Dalam sedetik mereka langsung bermandikan warna hijau segar dan cerah
Aku tahu, keterlambatan mu bukanlah inginmu,
Melainkan Qudrah dan Iradah dari Sang Pencipta-Mu,
Pencipta kita semua,
Hujan,
Dengan kedatanganmu,
Dari rona kematian kuning kusam pada rumput-rumput dan daun-daun keladi,
Kini mereka menyala hijau kehidupan yang menyegarkan,
Mereka menghela napas lagi,
Tarian mereka semakin gembira ria saat engkau menyapa pagi senin ini,
Seolah disihir oleh tetesan embun yang menyejukkan,
Terimakasih ya Rabb..
All Rights Reserved