Sejak kecil, hidupnya tak pernah lepas dari pertengkaran, teriakan, dan tangan-tangan ringan yang melayang. Lahir dari keluarga broken home, ia tumbuh sebagai anak sulung dengan ketiga adik yang harus ia lindungi, meski dirinya sendiri rapuh, terhempas, tak pernah benar-benar aman.
Bullying, Caci maki, KDRT, penghakiman, semua menumpuk hingga membuatnya merasa tidak berharga. Dalam keluarga yang sangat toxic, ia belajar bahwa air mata tidak pernah berarti, dan suara kebenaran bisa dengan mudah dibungkam. Hingga pelecehan seksual dari orang terdekat menjadi luka yang terus dipendam, bahkan membuatnya berkali-kali memilih jalan untuk mengakhiri hidup.
Diusir berulang kali, dipaksa bekerja sejak remaja demi keluarga, hingga terseret dalam kesalahan besar yang hampir membuatnya dipenjara, jalan hidupnya terasa tanpa pilihan. Sampai pada masa dimana ia pun berkali-kali dijodohkan. Namun perjodohan pertama justru menyeretnya ke dalam lingkaran baru yang tak kalah kelam, hingga untuk pertama kalinya ia memilih melarikan diri.
Dari situlah, takdir membawanya pada seorang pria yang kemudian dianggapnya sebagai tempat pulang yang selama ini ia rindukan. Untuk pertama kalinya, ia memiliki seseorang yang tak hanya mencintainya, tapi juga memeluk seluruh luka masa lalunya. Ada pria yang melihat dirinya bukan sebagai beban, melainkan sebagai jiwa yang pantas dicintai.
Pernikahan tidak serta merta menghapus trauma, meski awalnya terasa seperti pintu keluar dari segala luka masa lalu. Luka itu masih menghantui, ujian bertubi-tubi menguji rumah tangga. Pria itu berkali-kali harus menghadapi sisi dirinya yang rapuh: mudah marah, tangisan tengah malam, ketakutan yang tak beralasan, kecurigaan tak berdasar, dan rasa putus asa.
Ini bukan sekadar kisah tentang bertahan hidup. Ini adalah kisah seorang perempuan yang berjalan melewati neraka, untuk akhirnya menemukan arti rumah yang sesungguhnya. Meski ternyata, Tuhan memang membuat hidupnya seperti labirin tanpa jalan keluar.
All Rights Reserved