Langit masih sama.
Biru pucatnya tetap menggantung di atas kepala kami.
Awan masih berlalu lalang seperti biasa, mentari masih terbit dari arah yang sama.
Tapi dunia...
tidak pernah terasa utuh lagi tanpa Bunda
----
"Dulu, rumah ini tempat semua kembali. Sekarang, aku yang harus jaga semuanya tetap utuh. Tapi tiap kali aku duduk di meja makan tanpa suara Bunda... rasanya seperti semua ini tinggal bayangan." _Alkyro Kavian
"Gue masih ingat suara Bunda manggil nama kita satu-satu. Sekarang rumah ini sepi banget. Kayak... kita cuma numpang hidup di dalam kenangan."_Alvarro Kavian
"Gue nggak bisa bilang gue sedih. Tapi gue ngerasa kosong. Bunda hilang, dan Papa pun berubah. Rumah ini nggak sama lagi."_Alverro Kavian
"Gue biasanya paling rame. Tapi sekarang... rasanya kayak suara gue pantul doang di tembok kosong. Nggak ada yang jawab balik. Nggak ada yang bilang 'Van, udah diminum susunya?' kayak dulu."_Alvanno Kavian
"Gue masih sering ngelihat foto Bunda. Senyumnya kayak masih hidup di frame. Tapi tiap kali nyoba manggil 'Bun', yang jawab cuma diam."_ Alvenno Kavian
"Aku inget terakhir Bunda ada... dia elus rambutku. Terus semuanya jadi gelap. Pas aku bangun, Bunda udah nggak ada. Katanya... dia pergi. Tapi Kenapa? aku yang sembuh... tapi Bunda yang hilang?"_ Allano Kavian
"Kadang aku ngira... mungkin Bunda lagi nyamar jadi angin. Karena kadang kalau malam, aku bisa denger suara kayak dia bisik, 'Tidur ya, Nak.' Dan itu cukup. Untuk malam itu."_Alleno Kavian
"Kami bertujuh masih di sini. Masih di rumah yang sama. Tapi tanpa suara yang dulu selalu menyatukan kami."
"Kami belum tahu semuanya. Tapi satu hal yang kami percaya... Bunda nggak benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk: jadi keberanian Kyro, jadi pelukan Varro, jadi tangan kuat Verro, jadi tawa kecil Vanno, jadi pelipur Venno, jadi napas Allano, dan jadi harapan dalam mimpi-mimpi Leno."
"Dan kami akan belajar jadi rumah lagi. Pelan-pelan. Untuk Bunda."
Rumah Tanpa Bunda
All Rights Reserved