Setengah & Matang

Setengah & Matang

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 3, 2026
Nai berdiri terpaku, menatap dua pria di hadapannya yang sama-sama bersitegang. Mas Arim dan Adam-dua nama yang selama ini tak pernah ia bayangkan akan berdiri di ruangan yang sama, berdebat soal... dirinya. "Aku sudah mapan, Dam. Ekonomiku stabil. Dibanding kamu yang masih bocah," ucap Mas Arim tenang, tapi nadanya tak bisa menyembunyikan nada menusuk. Adam langsung menukas, "Enak aja! Nai itu bagianku ya, Mas Arim! Aku nungguin dia dari sebelum lulus sekolah. Lagian aku bisa kok biayain kuliahnya Nai. Bahkan kalau sampai S3, ayo aja! Jangan salahin umurku yang baru 22 tahun, Mas Arim aja yang jadi bujang lapuk... umur 34 kok belum nikah." Nai menghela napas panjang lalu berdeham, berusaha memotong ketegangan. "Bagaimana kalau... lamaran kalian berdua aku tolak?" "Apa??" Suara mereka berdua menggema bersamaan. Keduanya terkejut bukan main. Bahkan, saking syoknya, Adam langsung jatuh pingsan di tempat. ____ Hidup Nai yang tenang berubah menjadi komedi dewasa ketika dua pria berbeda generasi mengejarnya, sama-sama berniat meminang dirinya. Manakah pinangan yang akan Nai terima? dari lelaki setengah matang atau lelaki yang matang? ____
All Rights Reserved
#540
mahasiswi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa (Hiatus)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines