Sidang Terakhir

Sidang Terakhir

  • WpView
    Reads 808
  • WpVote
    Votes 330
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 31, 2026
Resae adalah jaksa penuntut paling dingin di pengadilan. Rekornya bersih: tidak ada banding, tidak ada ampun untuk penjahat. Lawannya kali ini adalah Kailash Samudra, kepala sindikat yang didakwa atas 7 kasus pembunuhan berencana. Selama 6 bulan persidangan, Resae menyusun bukti, menekan saksi, dan menjatuhkan Kailash dengan suaranya yang tenang tanpa emosi. Di sidang terakhir, saat tuntutan hukuman mati dibacakan, Kailash berdiri. Ia tidak membela diri. Ia menatap Resae dan berkata, "Kalau aku dihukum mati hari ini, setidaknya dunia tahu... aku mencintaimu sejak pertama kali kamu membacakan dakwaan itu." Ruang sidang meledak. Ternyata, lima tahun lalu, Resae pernah menyelamatkan adik Kailash dari kasus salah tangkap. Ia tidak tahu siapa Kailash sebenarnya. Kailash tidak pernah balas budi dengan kekerasan. Ia balas dengan cara yang paling berbahaya: jatuh cinta pada orang yang paling ingin menghancurkannya. Sekarang Resae harus memilih. Meneruskan tuntutan dan mengantar pria yang ia cintai ke tiang gantungan. Atau mengaku di depan hukum bahwa hatinya sudah bersalah duluan.
All Rights Reserved
#4
popular
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • [COMPLETED] Nefertiti Trilogy (Book #01 : Midnight Sun).
  • Sassy Lady in Ancient Land
  • Love Potion [Selesai]
  • O Maahi Re
  • The Great Sentinel (TAMAT)
  • MALEVOLENCE
  • ZOMBIE: VEIN ASHES
  • DON'T PANIC (Completed)
  • Rich x Hierarchy

Sekolah. Sekedar ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka atau versi terbaru, kecilnya. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point nilai lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines