Di Chonghua, lahir dua jenderal muda yang menjanjikan, berbeda satu sama lain seperti Jing dan Wei, bagaikan air dan api.
Yang mirip air bernama Mo Xi. Seumur hidupnya ia membujang, berhati dingin, dengan aura seorang pertapa. Bahkan ada taruhan besar tentang kapan Jenderal Mo akhirnya akan mengakhiri kejimbloannya itu. Uang taruhannya sudah menggunung, cukup membuat pengemis jadi kaya mendadak. Meski begitu, Mo Xi tetap jadi pilar utama kekuatan Chonghua.
Yang mirip api bernama Gu Mang. Seorang pria sejati dengan kepribadian hangat dan senyum yang tak pernah absen. Kalau setiap kali Gu Mang menggoda seseorang dan dia harus "membayar" dengan satu karung gaji tentaranya, dia pasti sudah lama bangkrut, sampai-sampai bajunya pun raib. Namun, belakangan Gu Mang berkhianat pada Chonghua dan justru jadi komandan untuk negeri musuh.
Sebelum pengkhianatan itu, ada satu hari ketika Gu Mang tiba-tiba kepikiran ide aneh. Membawa sebuah buku kecil berisi tulisan tangannya sendiri, dia berlari mencari Mo Xi untuk minta ditambahkan beberapa kata.
Waktu itu Mo Xi sedang sibuk dengan tumpukan dokumen militer, jadi dia cuma bertanya singkat,
"Isinya apa?"
"Macem-macem," jawab Gu Mang ceria. "Makanan enak, pengalaman seru, catatan perjalanan, katalog senjata, sampai hal-hal kecil sehari-hari."
Mo Xi menerima buku kecil itu, mengambil kuasnya, mencelupkannya ke tinta, lalu mulai menuliskan komentar.
"Aku juga menulis tentangmu," tambah Gu Mang sambil tersenyum.
Tangan Mo Xi berhenti, ia mendongak menatap Gu Mang.
"...Tentang aku apa?"
"Aku tulis sedikit tentang masa lalu kita," jawab Gu Mang serius.
Mo Xi terdiam. Setelah menatap Gu Mang beberapa lama, ia menundukkan bulu matanya yang panjang dan tanpa ekspresi menuliskan dua baris huruf resmi yang dingin dan tajam di halaman pertama.
All Rights Reserved