"Diam" adalah kisah tentang Aluna Seraphina Larasati, seorang gadis yang belajar menahan hati setelah terlalu banyak kecewa. Dari cinta yang pahit, persahabatan yang mengecewakan, hingga tekanan keluarga yang menuntut kesempurnaan, Aluna menemukan bahwa terkadang diam adalah satu-satunya cara untuk melindungi diri.
Berlatar di Jogja, terutama Jalan Malioboro, novel ini membawa pembaca merasakan keramaian kota yang kontras dengan kesunyian hati Aluna. Lampu-lampu yang berkelap-kelip, pedagang yang ramai, dan hujan yang membasahi jalan menjadi saksi bisu setiap luka, air mata, dan diam yang dipilih Aluna.
Kisah ini juga menyelami konflik cinta yang rumit: Raka, teman masa kecil dan cinta pertamanya, membuat Aluna kecewa; Fajar, pria yang pernah dipercayai, meninggalkan janji yang hampa; dan Nadia, sahabat yang selama ini dianggap paling dekat, ternyata menyimpan rahasia yang menyakiti.
"Diam" adalah perjalanan emosional tentang kehilangan, kekecewaan, dan kebisuan yang penuh makna. Ia bukan sekadar novel cinta biasa-ini adalah kisah tentang bagaimana seorang gadis menemukan kekuatan dalam keheningan, belajar menerima luka, dan perlahan menemukan dirinya kembali.
---
Prolog
"Gila, sadis banget si Xavier."
"Aluna juga tolol banget-udah tahu Canva nggak suka sama dia, masih juga ngejar-ngejar."
Zena menatap layar ponselnya dengan ekspresi campur aduk: marah, jijik, dan frustrasi.
Baru saja dia menamatkan novel Forever Mine, dan akhir ceritanya benar-benar bikin naik darah.
"Udah gitu, Aluna matinya tragis banget. Disiksa di ruang rahasia Xavier cuma karena dia berani bully Sofia? Gila, nih cowok psikopat."
Zena mematikan layar. Melempar ponsel ke kasur.
"Udah ah, mending gue tidur aja. Capek."
Tapi dia tak tahu, malam itu bukan malam biasa.
Saat membuka mata, semuanya berubah.
Lampu putih. Aroma antiseptik. Dingin.
Seseorang menggenggam tangannya.
"Aluna sayang... akhirnya kamu sadar juga," ucap seorang wanita lembut, penuh haru.
Zena terdiam. Matanya mengerjap bingung.
"Maaf, Tante... siapa Aluna? Nama saya Zena."
Wajah wanita itu langsung pucat.
"Luna, kamu jangan bercanda. Mama panggil dokter dulu ya, sayang..."
Zena mematung. Jantungnya mulai berpacu tak karuan.
Luna?
Aluna... Atmajaya?
"Nggak... ini nggak mungkin."
Beberapa jam kemudian, dua cewek datang menjenguknya.
"Luna, gue yakin ini ulah Xavier!"
"Lo baru aja nyiram bakso ke Sofia kemarin, kan?" ucap Rebecca panik.
Zena hanya bisa diam. Matanya kosong.
"Sial... gue masuk ke dunia Forever Mine."
"Dan lebih parahnya... gue jadi Aluna. Cewek antagonis yang bakal mati mengenaskan di tangan Xavier ."
Tapi cerita tak berhenti di sana.
Karena dalam dunia ini, satu perubahan kecil bisa mengubah takdir.
Dan siapa sangka...
Alih-alih ingin membunuh, Xavier justru mulai terobsesi...
Pada Aluna yang kini bukan lagi Aluna duluh.