Oneshot | WooSan
Woosan, finding each other in every universe.
"Kenapa harus dihapus kalau ini satu-satunya hal yang terasa nyata dari masa muda kita?" jawab Wooyoung pelan, menatap lurus ke dalam mata San. "Bahkan saat kita bertengkar hebat malam itu... aku tidak pernah sanggup mendatangi klinik penghapus tato."
~
"Itulah masalahnya Yeosangie! Rasanya seperti melihat truk terguling dalam bentuk yang sangat indah. Kau tahu kau harusnya berpaling, tapi matamu menolak bekerja sama. Wajahnya... astaga, hatiku rasanya mau meledak karena marah. Kenapa dia harus setampan itu? Kenapa matanya yang kelam itu harus berkilau setiap kali dia tertawa? Siapa yang memberinya izin untuk tampil sempurna di Senin sore yang buruk ini?"
~
Lihatlah dirimu, San," bisik Wooyoung, suaranya tenggelam di antara gemuruh tepuk tangan penonton yang tak henti-hentinya bergema. "Kamu sudah terbang sekarang. Sayapmu sangat indah. Begitu indah sampai membuat mataku sakit karena melihatnya."
~
"Menurutmu... kalau dua orang yang sudah lama berteman dekat tiba-tiba berpacaran, rasanya bakal aneh tidak?"
~
Uang itu tidak ada saat Wooyoung merintih kesakitan seorang diri di kamar tidur mereka, melahirkan seorang bayi laki-laki berambut lebat di pertengahan musim panas.
~
"Biarkan aku menebus semuanya..." bisik San, tangisnya pecah tanpa tertahan lagi. "Gunakan aku, Wooyoung-ah. Benci aku, caci maki aku, jadikan aku pelayanmu seumur hidupmu, tapi tolong... jangan usir aku dari kehidupan kalian lagi. Aku akan menghabiskan seluruh sisa umurku untuk membayar dosa-dosaku pada kalian berdua. Meski kau tidak akan pernah sudi menatap mataku lagi, biarkan aku berada di sisimu."
~
'Di kehidupan yang lain, San-ah...' batin Wooyoung penuh penyesalan dan kerinduan yang tiada tara. 'Di kehidupan yang lain, aku tidak akan membiarkan kelelahan merusak kita. Aku tidak akan melepas tanganmu. Kita akan membeli rumah kecil itu, mendengarkan deru ombak setiap pagi, dan aku akan duduk diam di dekat jendela menjadi modelmu selamanya...'