posesif family ( Aidan)

posesif family ( Aidan)

  • WpView
    LECTURAS 62,528
  • WpVote
    Votos 2,918
  • WpPart
    Partes 21
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, abr 2, 2026
Aidan cartischel gon saimen, berumur 15 tahun dengan paras yang imut dan mungil layaknya seperti bayi namun ia mempunyai masa lalu yang kelam dimana keluarganya membencinya. segala cara Aidan menarik hati mereka agar ia disayang dengan bertingkah manja namun keluarganya mencelanya. akhirnya ia pun berhenti bermanja dengan keluarga, Aidan terus sibuk berkerja demi hidupnya. disaat ia merasa bahwa ia bisa hidup sendiri ia pun pu memutuskan untuk pergi dari desanya menuju ke kota. disana ia menemukan keluarga baru yang sayang padanya tapi Aidan tidak berani memulainya "tolong biarkan saya pergi om" pintanya "Aidan cartischel Gon rudwick! sekarang kamu bagian dari keluarga rudwick" tegas om vardi bagaimana kisahnya apakah Aidan bahagia dengan keluarga baru nya yang posesif dan obsesif Terima kasih yang sudah baca Jangan lupa like and comen Saya baru pemula ku harap kalian suka Jangan ditiru ya yang negatif nya seperti kekerasan dan kata kata kotor
Todos los derechos reservados
#76
kesayangan
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Aku Benci Papah!!
  •  Manly tiba-tiba jadi Baby ( Revisi )
  • Velzi
  • MY SPECIAL BABY
  • Ganiarga A (END)
  • LUCA
  • Rakael Rayyanza•
  • Kai story'
  • Si Bungsu (End)
  • ZieKai

Kata orang, ayah itu pahlawan yang selalu melindungi dan memberi segalanya untuk keluarganya. Namun, kenapa itu tidak berlaku untukku? "Bunda, papah apin mana?" "Bunda, kapan apin bisa main sama papah?" "Bunda, papah benci apin ya? Apin nakal ya Bun?" Sosok itu hadir, namun hanya sesekali, dan peranannya tak sepenuhnya terasa. "Bunda jangan tinggalin apin sendirian, siapapun tolong" Teriakan minta tolong menggema keras, namun tak ada yang mendengar, bahkan sosok itu pun tak kunjung hadir. "Maafin papah" Ucapan maaf telah terdengar dari sosok itu, namun apakah aku bisa memaafkannya begitu saja? Apakah aku berhak untuk melupakan semua luka yang ada? Bolehkah aku egois, menjaga jarak, dan meragukan kata-kata yang diucapkannya? "Aku benci papah!!"

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido