Bamby hanya ingin bermimpi berdiri di atas panggung-sebuah mimpi sederhana, tapi terasa mustahil bagi seseorang yang bahkan sulit bicara di depan banyak orang. Namun, satu langkah kecil membawanya bertemu dengan Eunho, Noah, Hamin, dan Yejun: lima jiwa muda yang sama-sama terluka, dengan mimpi yang nyaris padam.
Mereka dipertemukan di sebuah klub musik yang tinggal menunggu waktu untuk dibubarkan. Dari ruang latihan usang itulah, cerita mereka dimulai, dengan tawa yang sering kali berubah jadi pertengkaran, latihan yang kacau balau, dan rahasia yang lebih berat dari sekadar nada yang salah.
Namun musik tidak sekadar bunyi; ia adalah luka yang belum sembuh, doa yang belum selesai, dan perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bersama, mereka harus menemukan keberanian untuk menghadapi masa lalu, memilih siapa yang pantas dipertahankan, dan menyingkap arti sejati dari mimpi yang ingin mereka wujudkan.
✨ When We Play adalah sebuah kisah tentang persahabatan yang rapuh namun kuat, cinta yang tumbuh diam-diam di antara denting gitar, serta mimpi yang tidak pernah benar-benar mati-bahkan ketika seluruh dunia berusaha membungkamnya.
________
⚠️ Warning & Disclaimer ⚠️
Cerita ini adalah 100% fiksi. Semua karakter yang merujuk pada member Plave hanya digunakan sebagai inspirasi tokoh dalam dunia imajiner. Cerita ini tidak mencerminkan kehidupan nyata para member, keluarga, atau pihak terkait.
Beberapa adegan dalam cerita ini memuat:
• konflik fisik (perkelahian)
• bahasa yang kurang pantas
• hubungan romantis antar karakter (mencakup adegan ciuman atau lebih)
Rekomendasi pembaca: 16+.
Jika kamu tidak nyaman dengan konten tersebut, silakan berhenti membaca.