Hourglass

Hourglass

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 22, 2025
Seandainya waktu bisa di ulang, ah kata seandainya terlalu banyak di pikiran. Apa sih sebenarnya yang di pikirkan Isla? Memutar waktu atau kembali ke masa biru putih itu. Harshel, Harshel kamu udah terlalu banyak memenuhi pikiranku akhir-akhir ini. Bukan kamu ataupun aku yang salah, semuanya hanya, "Masalah Waktu." Bagaimana sudut pandangmu kala itu, dan bagaimana sudut pandangku kala itu. Jika boleh jujur, Isla merindukan kala itu, kata seharusnya sudah terlambat. "Seharusnya aku gini waktu itu, seharusnya aku gitu, dan blablabla.." Hal itu selalu terlintas. Isla Khalessi & Zealand Harshell, dua orang yang di permainkan oleh waktu dan masa yang tak seharusnya ada. Seandainya waktu itu kaya jam pasir. Bisa berhenti kalo pasirnya habis, seandainya ia bisa menghentikan waktu, dan mengatur waktu itu sendiri. Maaf Harshell. . . . Beribu maaf untukmu dan untukku yang tarluka. Start : 22/09/2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines