Jakarta dan Air Mata

Jakarta dan Air Mata

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing<5 mins
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 22, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Aku dan Jakarta adalah representasi dari love-hate relationship. Hingar bingar kota ini mendukung ambisiku menjadi manusia bertumbuh sejalan dengan evolusi dunia. Namun di kota ini juga aku sering menumpahkan air mata untuk banyak sekali hal, dan hal yang paling menyakitkan adalah percintaan yang dalam lima tahun ini aku alami. Di suatu malam sambil melihat kelip lampu ibu kota aku sadar, bahwa kehidupanku ini bisa aku simpulkan dengan tajuk, Jakarta dan Air Mata.
All Rights Reserved
#39
mentalissue
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • SasuHina - You are so sweet
  • Dancing with Sadness
  • Putih abu-abu
  • Assalamualaikum Ustazah, KAHWINI SUAMIKU.
  • SECRET
  • The Light We Walk Toward

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines