Satu Ruang, Seribu Rasa

Satu Ruang, Seribu Rasa

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 23, 2025
"Aku tidak pernah menduga bahwa satu ruang kelas dapat menampung begitu banyak perasaan." ucap Safira. Di semester pertama perkuliahan, Safira bertemu Hazem-mahasiswa yang pesonanya menarik perhatian bukan karena keheningan, melainkan karena gaya bicaranya. Melukis, berpendapat, dan selalu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam perdebatan. Figur yang tidak pernah ia kira akan berada di kelas, ruangan, dan waktu yang sama dengannya. Tapi... sampai kapan sebuah rasa bisa tetap diam, sebelum akhirnya menuntut untuk terucap? Mereka tidak pernah benar-benar akrab, tetapi juga tidak terasa asing. Namun setiap kali bertemu di ruang kuliah tersebut, selalu ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Terkagum, ingin tahu, betah... dan mungkin, suka. Bermula di suatu ruangan kecil bernama kelas N507, Safira menyimpan seribu perasaan yang tak pernah bisa ia sampaikan-semuanya berakar dari tatapan, tawa, dan momen-momen kecil yang hanya mereka berdua pahami.
All Rights Reserved
#473
ceritaremaja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines