Sisa Dinding Rumah

Sisa Dinding Rumah

  • WpView
    Reads 382
  • WpVote
    Votes 209
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Nov 16, 2025
​⚠️ 𝐖𝐚𝐫𝐧𝐢𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐝𝐮𝐥𝐮 𝐲𝐮𝐮𝐤!!⚠️ ​𝐊𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐃𝐞𝐰𝐚𝐬𝐚 𝟏𝟓++ ​𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐝𝐮𝐧𝐠 𝐮𝐧𝐬𝐮𝐫 𝐊𝐞𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐅𝐢𝐬𝐢𝐤, 𝐓𝐫𝐚𝐮𝐦𝐚 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚, 𝐝𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐊𝐚𝐬𝐚𝐫. ​𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐬𝐢𝐭𝐢𝐟 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐢𝐬𝐮-𝐢𝐬𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐬, 𝐦𝐨𝐡𝐨𝐧𝐧 𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭, 𝐲𝐚!!🥺🙏 ~~~~~--~~~~ Ares menutup pintu, seragam SMP nya masih rapi. Hanya butuh satu detik bagi keheningan itu untuk terenggut paksa. ​𝐁𝐔𝐆𝐇!! ​Pukulan Ayahnya menghantam perut. Ares terhuyung ke dinding. Rasa sakit fisiknya langsung tenggelam, digantikan nyeri lama di ulu hati. Ia tertawa, tawa hampa yang mengkhianati getaran di bibirnya. ​"Kenapa lagi, Yah?" tanyanya. ​Ayahnya menatapnya, matanya dingin membara. Ia mengucapkan dua kata yang selalu menghancurkan Antares lebih dari pukulan apa pun. ​"𝑲𝒂𝒎𝒖 𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝑺𝒊𝒂𝒍 𝑨𝒓𝒆𝒔" ​Ares menunduk, menerima gelar yang diwariskan kepadanya sejak hari itu. Ia lelah melawan. Ia lelah bertanya. ​Ia hanya punya satu pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan keras-keras: Mengapa? Mengapa ia harus membayar dosa yang bahkan ia tidak tahu apa itu? ​Saat itulah, Ayahnya maju selangkah, berbisik dekat telinganya, suaranya serak dan penuh ancaman. ​"Kau tahu, Ares... Pembawa sial sepertimu seharusnya tidak pernah hidup. Terutama karena kau memiliki itu." ​Itu? Apa yang ia miliki? Ares mendongak, matanya melebar. ​𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 𝐁𝐈𝐒𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐖𝐀𝐑𝐈𝐒𝐀𝐍. 𝐊𝐋𝐈𝐊 '𝐁𝐀
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The only thing I'm trying to
  • PERSIMPANGAN RASA
  • Mantra Coffee : Next Generation
  • Hopeless
  • Save Us (Tersedia di play store)
  • ENIGMA RASA
  • Rewind (END) Wish Series #1
  • Tentang Kita, Jogja, dan Semua yang Tertinggal
  • Jodoh 21
  • ON REMEMBERING

"Beberapa manusia menjalani hidup dalam keputusasaan yang sunyi"-Henry David Thoreau Dia hidup dengan kondisi yang serba kekurangan. Ia tinggal di tempat yang jauh dari kata layak, bekerja tanpa henti hanya untuk bisa bertahan dari hari ke hari. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia harus menjalani dua pekerjaan sekaligus. Siang hari bekerja di sebuah kedai kopi, malamnya harus menjadi cleaning service di toko serba ada. Di kedai kopi tempat ia bekerja, ia sering menerima hinaan dan ucapan yang merendahkan. Wajahnya yang cantik dan menarik justru menjadi bahan untuk kata-kata melecehkan yang diselipkan dengan nada bercanda. Di tempat kerja lainnya, ia harus menghadapi pengkhianatan, ditipu oleh kolega sendiri, dan dibiarkan menanggung akibatnya sendirian. Dengan pendidikan yang hanya sampai SMA, mencari pekerjaan lain bukan perkara mudah. Masa lalunya terus menghantui, terutama hubungan dengan ayahnya yang rumit dan tidak pernah benar-benar selesai, ditandai dengan kotak-kotak hadiah yang terus datang tanpa pernah ia buka. Ini adalah cerita tentang seseorang gadi bernama Ella Sophia yang terus hidup meski lelah, tentang bertahan di tengah kemiskinan, luka lama, adaptasi, dan dunianya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines