Di balik dinding rumah sederhana, ibunda duduk di sajadah, menggenggam tasbih dengan jemari ringkih. Doanya lirih, tapi hatinya berat oleh beban dunia: suami yang lalai, anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, dan ekspektasi masyarakat yang menjerat tanpa henti.
Rumah yang seharusnya jadi surga berubah menjadi neraka duniawi, penjara sunyi yang melahap kasih dan meninggalkan luka. Dalam tatapan anaknya, terpantul pertanyaan: apakah ibunda pernah benar-benar merasakan bebas?
Cerpen ini menggali peran perempuan dalam keluarga, luka antargenerasi, dan pencarian cahaya di tengah gelapnya tirani domestik.
All Rights Reserved