Ibunda Terpenjara Neraka Duniawi

Ibunda Terpenjara Neraka Duniawi

  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 24, 2025
Di balik dinding rumah sederhana, ibunda duduk di sajadah, menggenggam tasbih dengan jemari ringkih. Doanya lirih, tapi hatinya berat oleh beban dunia: suami yang lalai, anak-anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, dan ekspektasi masyarakat yang menjerat tanpa henti. Rumah yang seharusnya jadi surga berubah menjadi neraka duniawi, penjara sunyi yang melahap kasih dan meninggalkan luka. Dalam tatapan anaknya, terpantul pertanyaan: apakah ibunda pernah benar-benar merasakan bebas? Cerpen ini menggali peran perempuan dalam keluarga, luka antargenerasi, dan pencarian cahaya di tengah gelapnya tirani domestik.
All Rights Reserved
#521
rumah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"
  • Change The Plot (Niel)
  • BACKSTREET
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {End}
  • Drama di Pintu Kosan
  • REGAN's Crazy Wife
  • Chana's Transmigrasi
  • Mission

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines