WE DON'T TALK ANYMORE {dewtee}

WE DON'T TALK ANYMORE {dewtee}

  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Sep 25, 2025
Ini bukan cerita tentang perpisahan yang dramatis. Ini tentang jarak yang terbentang setelah semuanya berakhir. Tentang rasa sakit karena harus berpura-pura baik-baik saja di depan dunia, padahal di dalam hati, kita berdua tahu ada ruang kosong yang ditinggalkan. Sebuah ruang yang dulu diisi dengan "kita," dan sekarang hanya ada aku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Living Together [JossGawin]
  • Room Hurt [JossGawin]
  • Appologize
  • Raindrop ✔️
  • Help Me in Nine Days [JossGawin] [Lokal]
  • 𝗧𝗥𝗢𝗨𝗕𝗟𝗘𝗠𝗔𝗞𝗘𝗥 (𝐉𝐨𝐬𝐬𝐆𝐚𝐰𝐢𝐧)ᵉⁿᵈ✔️
  • COME BACK
  • Never Be Us
  • Love that never arrives [DEWTEE]
  • 7 DAYS WITH YOU - JOSSGAWIN AU

[LENGKAP] 🎬WAJIB FOLLOW SEBELUM BACA! KALAU NGGAK FOLLOW NGGAK BOLEH BACA!🎬 *** "Lo siapa?" Suara itu. Lebih dalam dari yang Gawin ingat, serak dan berat, seperti kerikil yang digiling di bawah sepatu bot. Suara itu tidak bertanya, melainkan menuntut. Mulut Gawin terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa sekering gurun. Panik menjalari pembuluh darahnya, membekukan setiap ototnya. Ini tidak mungkin. Ini adalah sebuah lelucon kosmik yang kejam. Dari sekian banyak orang di Bangkok, kenapa harus dia? Kenapa Mami, dengan semua koneksinya, bisa menempatkannya di neraka pribadi ini? "Gue... Gawin," akhirnya ia berhasil berbisik, suaranya terdengar asing dan lemah di telinganya sendiri. "Saya... teman sekamar yang baru. Mami saya yang mengatur semuanya." Joss mendengus pelan, sebuah suara yang penuh dengan cemoohan. Ia meletakkan botol air di atas meja dengan dentuman pelan. "Mami lo? Gue nggak peduli siapa yang atur." Ia melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Setiap langkahnya membuat Gawin ingin mundur, tapi kakinya seolah terpaku di lantai. Aroma sabun yang tajam dan aroma maskulin dari kulitnya menyerbu indra Gawin, memicu gelombang kenangan yang menyakitkan. "Gue nggak mau ada orang lain di sini."

More details
WpActionLinkContent Guidelines