SHAMELESS

SHAMELESS

  • WpView
    Reads 93
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 31, 2025
Mungkin beberapa ciuman tidak terdengar buruk, bukan? Itulah yang setidaknya Alena pikirkan beberapa saat lalu. Suara erangan terdengar saat Baskara menciumnya dengan lembut, begitu lembut hingga rasanya menyakitkan-membuatnya mendambakan sesuatu yang lebih keras: bibir yang menuntut daripada menyentuh, suara bentakan. Tapi tanpa disangka, pria itu justru menarik diri sedikit, menciptakan cukup ruang untuk berbicara. Tangannya masih berada di pinggul Alena, dahinya bersandar di dahi­ wanita itu. "Aku ingin menikmati setiap detiknya," bisiknya lembut, bibirnya membelai pipi Alena. "Mengenal setiap suara yang berusaha kau tahan, setiap titik yang membuat kakimu bergetar." Kata-kata itu terdengar asing di telinganya. Alena menelan napas yang rasanya tersangkut di tenggorokannya. Ia ingin tertawa, ingin berkata bahwa semua itu tak perlu. Namun ia sadar, Baskara berbeda. Ia tak memaksa, tak pula menuntut. Pria itu hanya menatapnya dalam, seolah ingin memahami setiap retakan yang berusaha Alena sembunyikan di balik keberaniannya. -------------- ------------------ -------------- Content warning(s); Mature themes, mental illness, sexual harassment, etc.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ATMA FATAMORGANA
  • Unexpectedly Yours
  • Dua Langit Berbeda
  • The Place You Left Me [Menuz]
  • BOUND WITHOUT LOVE
  • MOTHER
  • My Step Mom?
  • GAREL ; POSESIF BROTHER
  • Gila!?, Gue Jadi Kucing?!
  • Stealing My Husband

"Jadilah seperti lumut: ada, tapi tidak terlihat, dan kalau bisa jangan diinjak." Itulah moto hidup Sevanja Nandhira. Sebagai mahasiswi Seni Rupa di Universitas Brahmana yang isinya anak-anak sultan, Sevan lebih memilih menjadi "Cewek Suram" yang hobi begadang demi deadline gambar daripada harus bersosialisasi. Strateginya sederhana yaitu hindari keramaian, gunakan jalur tikus, dan tetap berada di luar Radius Seratus Meter dari orang-orang populer. Terutama dari Adiaksa Ranjaya Jasvanta. Aksa adalah segalanya yang Sevan hindari karena tinggi 185, bintang Ice Hockey, salah satu mahasiswa terkenal orang terkaya di kampus yang dijuluki Vanguard, dan memiliki aura "lampu sorot" yang menyilaukan. Bagi Sevan, Aksa adalah intimidasi visual dan gangguan dalam hidupnya. Lari cepat setiap kali melihat ujung jaket hoki Aksa adalah olahraga wajib. Namun, Sevan tidak tahu satu rahasia besar. Aksa bukan sekadar cowok populer yang iseng. Aksa adalah kolektor rahasia dari karya-karya digital anonim milik Sevan yang sangat emosional. Baginya, Sevan bukan sekadar "gadis berantakan" yang hobi kabur. Sevan adalah pelukis hantu yang selama ini ia kagumi karyanya. Kini, sang Forward tim hoki itu telah mengunci targetnya. Bukan di lapangan es, melainkan di lorong-lorong sempit fakultas seni. Dimulai dari satu krat susu coklat hingga aksi kejar-kejaran absurd yang bikin heboh satu kampus, Aksa bertekad menembus zona nyaman Sevan yang sekecil kotak pensil itu. Sanggupkah Sevan mempertahankan jaraknya, atau justru ia akan terjebak dalam pesona "Beruang" yang ternyata tidak se-polos kelihatannya? ~~~ DILARANG PLAGIAT (⁠ノ⁠`⁠Д⁠'⁠)⁠ノ⁠彡⁠┻⁠━⁠┻ pernah di unpublish karena di revisi. #01 teenfiction [ 20 Maret 2026] #01 absrud [ 20 Maret 2026] #01 gambar [ 20 Maret 2026] #01 fiksi [31 Maret 2026] #02 komedi [ 20 Maret 2026]

More details
WpActionLinkContent Guidelines