Di bawah indahnya langit biru, di dalam sialnya hari senin, Renjana dihukum membersihkan jendela ruang kepsek bersama seorang laki-laki karena telat. Laki-laki yang ia bayari karena ia lupa membawa uang, laki-laki yang ia tegur karena suara motornya begitu bising dan memekik telinga.
"Makasih, ya, buat semalam. Aku lupa bawa dompet. Jujur malu dikit-nggak deng, malu banyak. Kamu namanya siapa? Aku Marseric Whitmore."
"Renjana Ansaira, panggil aja Renjana, kamu harus kupanggil apa?" tanya Renjana yang tangannya masih mengelap jendela dengan muka muram, sebab ia paling tidak suka hukuman membersihkan jendela ruang kepsek, alasannya karena wajah sang kepsek membuat dongkol, bahkan sikapnya pun begitu.
"Mars planet sangar"
mendengar panggilan laki-laki pemilik motor gagah itu renjana tertawa. Panggilannya yang seperti anak-anak tidak cocok dengan tampang sangar motornya.
"ketawa dosa."
"bodoamat, motor kamu banyak dosa, bikin orang kesel." ejek Renjana.
"Yaudah besok dimodif biar Renjana gak kesel lagi."
Renjana tidak sadar bahwa kalimat Mars memiliki pesan tersirat yang mengandung makna cinta. Renjana bahkan tak sadar kala itu muramnya berhenti karena candaan yang Mars lukis untuknya.
Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya.
Namun, malam itu mengubah segalanya.
Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan.
Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah.
"Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis.
"Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh.
Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.