FALLING INTO MARS

FALLING INTO MARS

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 19, 2025
Di bawah indahnya langit biru, di dalam sialnya hari senin, Renjana dihukum membersihkan jendela ruang kepsek bersama seorang laki-laki karena telat. Laki-laki yang ia bayari karena ia lupa membawa uang, laki-laki yang ia tegur karena suara motornya begitu bising dan memekik telinga. "Makasih, ya, buat semalam. Aku lupa bawa dompet. Jujur malu dikit-nggak deng, malu banyak. Kamu namanya siapa? Aku Marseric Whitmore." "Renjana Ansaira, panggil aja Renjana, kamu harus kupanggil apa?" tanya Renjana yang tangannya masih mengelap jendela dengan muka muram, sebab ia paling tidak suka hukuman membersihkan jendela ruang kepsek, alasannya karena wajah sang kepsek membuat dongkol, bahkan sikapnya pun begitu. "Mars planet sangar" mendengar panggilan laki-laki pemilik motor gagah itu renjana tertawa. Panggilannya yang seperti anak-anak tidak cocok dengan tampang sangar motornya. "ketawa dosa." "bodoamat, motor kamu banyak dosa, bikin orang kesel." ejek Renjana. "Yaudah besok dimodif biar Renjana gak kesel lagi." Renjana tidak sadar bahwa kalimat Mars memiliki pesan tersirat yang mengandung makna cinta. Renjana bahkan tak sadar kala itu muramnya berhenti karena candaan yang Mars lukis untuknya.
All Rights Reserved
#96
sebong
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines