Mar de Anhelo [End]

Mar de Anhelo [End]

  • WpView
    LECTURAS 654
  • WpVote
    Votos 272
  • WpPart
    Partes 82
WpMetadataReadContenido adultoConcluida lun, feb 9, 2026
Terpisah oleh samudra, Gema dan Seruni berjuang mempertahankan cinta mereka dari badai kesalahpahaman, tekanan keluarga, dan keraguan yang mengancam akan menenggelamkan janji setia mereka. Sanggupkah hati mereka menemukan jalan pulang? (Cerita Dewasa 21+ | Heavy Angst | LDR) --- ⚠️ Peringatan Hak Cipta & Karya Fantasi © 2025 Arvianne Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak, memindahkan, menyebarkan, atau menerjemahkan sebagian maupun seluruh isi karya ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penulis. Setiap pelanggaran akan diproses sesuai dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Cerita ini adalah karya fiksi fantasi. Nama tokoh, tempat, kerajaan, peristiwa, dan segala unsur di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis. Jika terdapat kesamaan dengan nama atau kejadian nyata, hal tersebut hanyalah kebetulan semata dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak mana pun.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Villain Mother
  • Be My Wife
  • My Celestia [ON GOING]
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Hello, KKN!
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido