Under The Veil of Light

Under The Veil of Light

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 14, 2026
WpInfo
Fiction
Fantasy
Magical Kingdoms
Dark Fantasy
Isekai and Reincarnation
[ Fantasy, Adventure, Action ] Rakus, iri dengki, bodoh, ceroboh awalnya adalah ciri khas manusia. Namun, karena hidup berdampingan, sifat-sifat itu mulai memengaruhi penyihir, sehingga menciptakan kekacauan yang memutar balikkan keadaan. Kasta yang lebih tinggi pun berakhir menjadi buronan. Dan rasa ketidakadilan membuat takdir memaksa para penyihir harus berjalan dalam kegelapan. Akankah sebuah cahaya menuntun mereka menuju perdamaian, atau masa lalu akan terus terulang hingga pertumpahan darahlah yang akan menjadi era akhir bagi bangsa penyihir? original story only by © Orín Morín, 2026
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Tiri Menolak Mati di Kehidupan ke-7
  • Transmigrasi: The Villain's Stepmother
  • I'm the male lead's wife? [TERBIT!]
  • A Family of Villains
  • AS : The Side Character's Rebirth
  • The Mad Marchioness of Obsidia
  • Rumah Untuk Sang Tiran
  • Aveline Beyond Her Fate
  • The Adiputra Family
  • Sin of The Villainess

Enam kali mati dibunuh tepat di usia 22 tahun. Di kehidupan ketujuh, Ravenna menolak menjadi mangsa. Sebagai seorang mantan pendidik, Ravenna tahu cara terbaik menghukum orang bodoh bukanlah dengan air mata, melainkan dengan merampas apa yang paling mereka hargai. Maka, ia membatalkan pertunangannya dengan Putra Mahkota secara elegan, mengosongkan brankas ayahnya, dan menyerahkan diri kepada pria paling berbahaya di benua itu-Grand Duke Alaric von Blackwood, sang Monster Utara. Tawarannya sangat sederhana: "Jadikan aku istri kontrak selama lima tahun. Aku akan mendidik dua anakmu dan menjadi perisai politik dari hukum Istana. Setelah anak-anakmu aman, ceraikan aku dengan pesangon emas." Bagi Ravenna, ini hanyalah transaksi bisnis. Ia hanya ingin selamat dari maut dan pensiun dengan tenang. Namun, logika dan rencananya gagal meramalkan satu hal... Dua anak tiri yang konon 'monster' itu kini menangis memeluk kakinya, enggan dilepaskan. Sementara sang Grand Duke yang terkenal berhati beku? Pria itu menatap Ravenna dengan sorot posesif yang menggelapkan akal sehat. "Kau yang memulai permainan ini, Istriku. Jangan harap aku akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines