Our Studio, Our Home

Our Studio, Our Home

  • WpView
    Reads 4,258
  • WpVote
    Votes 632
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 1, 2025
Bagi Juun, studio radio tua itu hanyalah bangunan reyot di atas lahan strategis. Target selanjutnya untuk buldoser. ​Bagi Yuha, studio itu adalah satu-satunya peninggalan kakeknya. Harta karun yang harus diselamatkan dengan cara apa pun. ​Sebuah tugas kuliah memaksa mereka-si arsitek sinis dan si penyiar sentimentil-untuk bekerja sama. Misinya: membuktikan bahwa sebuah kenangan layak untuk diperjuangkan dalam waktu 30 hari. ​Ini bukan kisah cinta pada pandangan pertama. Ini adalah kisah cinta yang dibangun dari perdebatan sengit, secangkir kopi rahasia, dan sebuah siaran radio yang berhasil menemukan frekuensi yang tepat untuk dua hati yang berbeda. Genre: Romance, Slice of Life, Enemies to Lovers, Comedy, College, Heartwarming Disclaimer: Penting untuk diingat bahwa seluruh SIFAT, KEPRIBADIAN, TINDAKAN dan JALAN HIDUP mereka di dalam cerita ini adalah 100% FIKTIF. Cerita ini sama sekali tidak mencerminkan atau berhubungan dengan kehidupan nyata dari individu tersebut. Mohon untuk menjadi pembaca yang bijak.
All Rights Reserved
#560
juun
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status
  • Kembang Desa
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • Stand by Me

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines