Ada banyak cara manusia bertahan. Ada yang memilih berteriak, ada yang memilih berlari, ada pula yang memilih untuk diam. Bagi sebagian orang, diam dianggap lemah. Diam dianggap tanda menyerah. Padahal, tidak ada yang lebih kuat dari seseorang yang mampu menahan kata-kata saat hatinya ingin meledak.
Aku menulis buku ini bukan karena aku sudah benar-benar paham tentang hidup, apalagi tentang seni bertahan. Aku menulis karena aku masih belajar. Karena setiap hari, aku juga sering kalah oleh emosiku sendiri, kalah oleh rasa rinduku, kalah oleh kecewa yang diam-diam kutelan.
Tapi dalam diam, aku menemukan sesuatu.
Bahwa luka bisa dirawat dengan hening.
Bahwa rindu bisa disimpan tanpa perlu diumbar.
Bahwa kecewa bisa dilepaskan tanpa harus ada yang tahu.
Buku ini bukan teori. Bukan pula kebenaran mutlak yang harus kamu ikuti. Ini hanyalah catatan perjalanan-tentang bagaimana aku mencoba berdamai dengan diamku sendiri, bagaimana aku belajar memaknai sunyi, dan bagaimana aku menemukan cahaya kecil di tengah gelap.
Jika kamu sedang membaca ini, mungkin kamu pun pernah merasa sama: ingin bicara, tapi tak tahu harus ke siapa; ingin marah, tapi tak ingin menyakiti siapa pun; ingin menangis, tapi akhirnya hanya bisa tersenyum tipis di depan dunia.
Di sinilah kita sama-sama belajar. Belajar bahwa diam bukan berarti kalah, melainkan cara lain untuk tetap utuh.
Selamat datang di perjalanan kecil ini. Semoga setiap halaman bisa menemanimu, seperti lilin kecil yang tidak bisa mengusir semua gelap, tapi cukup untuk membuatmu tidak tersesat.
All Rights Reserved