Sejak kelas empat SD, rumah bagi Risa bukanlah tempat yang hangat, melainkan ring tinju tanpa wasit. Kata-kata kasar orang tuanya adalah melodi latar yang menemaninya saat sarapan dan sebelum tidur. Puncaknya, malam itu, Papa dan Mama berteriak lebih keras dari biasanya. Piring pecah, dan keesokan harinya, lemari pakaian Papa kosong.
Risa, yang saat itu duduk di bangku SMP, hanya bisa mematung di kamarnya. Perceraian itu resmi. Risa memilih tinggal bersama Mama, yang kini bekerja keras untuk menutupi semua biaya. Namun, rumah terasa dingin. Mama sering pulang larut, kelelahan, dan lebih sering marah-marah karena hal kecil.
Risa mulai menghabiskan waktu di luar rumah. Sekolah menjadi satu-satunya tempat ia merasa normal. Ia menutup rapat masalah keluarganya. Hingga suatu hari, guru Bimbingan Konseling (BK), Bu Retno, memanggilnya. Bu Retno menyadari nilai-nilai Risa merosot drastis dan ia mulai sering melamun.
"Kamu tidak perlu berpura-pura kuat di hadapan saya, Risa," kata Bu Retno lembut.
Air mata Risa pecah setelah sekian lama ia tahan. Ia menceritakan segalanya: rasa kesepian, rindu akan sosok utuh orang tua, dan beban harus menjadi dewasa sebelum waktunya.
Bu Retno tidak memberinya solusi instan, tapi memberinya satu pesan penting: "Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membangun rumah baru di dalam hatimu, Risa. Keretakan mereka bukan keretakanmu."
Sejak saat itu, Risa berjuang untuk fokus pada dirinya. Ia mulai menulis buku harian untuk melampiaskan emosinya dan bergabung dengan klub literasi. Ia tahu, meskipun bayangan masa lalu dan rumah yang pecah akan selalu ada di jendela memorinya, ia harus beranjak ke depan. Ia menemukan kekuatan bukan dari keluarganya, tapi dari tekadnya sendiri untuk tidak membiarkan patahan itu menentukan masa depannya.
All Rights Reserved