Sang Penjaga Kafe Kucing

Sang Penjaga Kafe Kucing

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 32
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 28, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Setiap sore, gadis yang sama datang ke Kopi Meong. Selalu memesan teh melati, tidak pernah menyentuh ponselnya, dan langsung menuju sudut tempat para kucing berkumpul. Arka, sang barista pendiam dan pemilik kafe, hanya bisa mengamati dari kejauhan. Siapakah dia? Mengapa matanya selalu menyimpan duka yang tak terjangkau? Dan mengapa kucing paling angkuh di kafe itu luluh di pangkuannya, seolah mengenali luka yang sama? Semakin Arka mencoba menjaga jarak, semakin hatinya tertarik pada teka-teki bernama Indah. Melalui interaksi-interaksi kecil yang dimediasi oleh Oreo si pemalas dan Klepon si biang kerok, sebuah jembatan rapuh mulai terbangun di atas fondasi rahasia dan perasaan yang tak terucap. Ini adalah kisah tentang bagaimana dengkuran seekor kucing bisa lebih jujur daripada kata-kata, dan bagaimana terkadang, cinta datang bukan untuk menjawab pertanyaan, melainkan untuk membuatmu berhenti bertanya-tanya sendirian.
All Rights Reserved
#759
pacaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [TERBIT]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines