Rintik hujan menetes di atap seng tua panti asuhan kecil di pinggiran kota. Bau kayu lembab bercampur tanah basah memenuhi ruangan sempit itu. Di salah satu sudut, seorang anak perempuan duduk dengan kaki terlipat, menatap kaca jendela berembun. Rambutnya berantakan, matanya tidak terlalu sendu, justru kosong tapi... bukan berarti tanpa nyawa.
"Lana," panggil seorang pengasuh dengan suara riang, meski lelahnya jelas terdengar. "Jangan melamun terus. Pergilah bermasa anak-anak lain yang sedang lagi main."
Anak itu-Lana-menoleh sebentar. Senyumnya tipis, lebih seperti basa-basi.
"Mereka Mainnya ribut. Aku engga suka, pusing," jawabnya santai, nada suaranya datar tapi ujung bibirnya sedikit melengkung seperti bercanda.
Pengasuh itu hanya menghela napas. Lana memang berbeda. Anak-anak lain berebut perhatian, suka bertanya tentang orang tua mereka. Lana tidak. Bagi Lana, pertanyaan itu membosankan.
"Apa kamu nggak pernah penasaran, siapa orang tuamu?" tanya pengasuh itu tiba-tiba. Lana mengangkat alis. "Kalau mereka mau ada di sini, mereka pasti udah ada dari dulu, kan? Jadi... ya udah."
Jawaban itu sederhana, tapi menyimpan jarak. Lana tidak menolak kenyataan, tapi juga tidak mencarinya. Tapi ia tidak tahu apa yang akan menantikannya dimasa yang akan datang.
"di lahirkan oleh orang orang sekuat baja, bertemu dengan orang orang yang kuat layaknya berlian, namun sayangnya aku hanyalah sebuah kaca yang gampang pecah."
- Caine Chana
!! WARN, Tidak ada BxB, alur cerita tidak sama dengan yang asli, beserta cerita ini pure dari otak authornya yang stress ampe muter banyak lagu untuk referensi!!