ALUNANTA
  • WpView
    Reads 536
  • WpVote
    Votes 246
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 19 hours ago
Alunan hanya ingin membalas kebaikan Anya, gadis yang pernah menolong mamanya. Namun, Anya belum mengingat pertemuan itu. Sejak awal, ia justru menganggap Alunan sebagai cowok menyebalkan yang selalu berhasil memancing emosinya. Meski begitu, Alunan tidak menyerah. Seiring berjalannya waktu, keduanya sama-sama merasakan hal-hal yang tak biasa pada perasaan mereka. Hingga suatu hari, Alunan menemukan fakta mengejutkan tentang kematian mamanya lima tahun lalu. Kini, ia terjebak. Antara memercayai memori yang penuh luka atau mempertanyakan semua yang ia yakini.
All Rights Reserved
#187
fiksiremaja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • The Villain's Mother
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I Won't Be the Tragic Fiancée

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines