Dari sastra untuk sebuah rasa

Dari sastra untuk sebuah rasa

  • WpView
    Прочтений 20
  • WpVote
    Голосов 4
  • WpPart
    Частей 2
WpMetadataReadВ процессе
WpMetadataNoticeLast published втр, сент. 30, 2025
Jejak membekas bagai goresan di kanvas. Tiada celah bagimu hapusnya, juga tak mungkin kamu lepaskannya. Ya... Disinilah kamu berada, di antara dengungan nama. Meraung panggilan bersahutan, bergema memekakkan telinga. Kau berusaha menggapai uluran tangan di depan, tapi dikelilingi keraguan. Mencari keberadaan, kemana arah tujuan? Tidakkan kamu dapatkan. Untukmu, tiada lagi harapan. Untukmu, telah hilang harapan. Tugasnya telah selesai, menemani hingga batas ketentuan. Lubang penyesalan terhantam semakin dalam. Belum sempat menggenggam, belum sempat merengkuh tapi semesta bertindak lebih dulu. Tak ia restukan bagimu yang selalu ragu. Ketika kau sadar, dunia tak lagi seperti dulu. Dunia seakan berhenti, kau diambang kesadaran. Sekarang kau berpikir ini imajinasi, dan mencari kenyataan dan pengulangan yang tak mungkin datang. Semua ini datang tanpa persiapan. Tanpa rasa bersalah, karena ini memang ranahnya.
Все права сохранены
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

Вам также может понравиться

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

Подробнее
WpActionLinkТребования к контенту