NAIRA: Dear Canvas, Rewrite My Loss

NAIRA: Dear Canvas, Rewrite My Loss

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 12, 2025
"akan ku lukis kalian di atas kanvas terbaikku, lalu kalian ajak aku terbang di atas langit biru itu" -Teruntuk langit yang tak sempat pulang- Mereka cuma sekelompok anak muda yang tumbuh di bawah langit yang sama, dengan tawa yang kadang berlebihan dan mimpi yang terlalu tinggi untuk dikejar. Semuanya terasa sederhana-sampai waktu pelan-pelan mengubah arah mereka tanpa ada yang benar-benar sadar. Ada yang berlari menuju langit, ada yang diam menjaga bumi, dan ada yang hanya bisa melihat dari kejauhan. Mereka nggak pernah tahu, kalau beberapa pertemuan diciptakan bukan untuk bertahan, tapi untuk dikenang. Di antara canda, rahasia, dan janji yang setengah diucap, tersimpan sesuatu yang nggak pernah selesai. Sesuatu yang masih melayang di udara-menunggu untuk diceritakan kembali. "Bawa mereka kembali, atau aku yang menghampiri mereka untuk kesekian kali" -Naira-
All Rights Reserved
#30
naksir
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines