Davian lahir ke dunia tanpa sambutan hangat, tanpa pelukan yang menenangkan. Sejak membuka mata untuk pertama kalinya, ia hanya mengenal dinginnya dunia dan tajamnya kata-kata yang melukai. Tidak ada cinta di rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman. Hanya luka dan sakit yang menoreh hatinya, perlahan mengikis masa kecilnya yang tak pernah sempat bahagia.
Davian tumbuh menjadi remaja laki-laki yang pendiam, menyimpan segalanya sendiri. Tak berdosa, tak berdaya, tapi dipaksa kuat menghadapi keluarga yang tak pernah benar-benar menginginkannya, dunia yang terus menghukumnya tanpa alasan. Namun, meski hatinya berkeping-keping, Davian selalu tersenyum. Senyum yang ia kenakan seperti topeng, agar orang-orang tidak tahu betapa hancurnya dirinya di dalam.
Hingga akhirnya, ketika Davian pergi untuk selamanya, barulah cinta dan penyesalan datang terlambat. Semua air mata, semua pelukan, semua kata maaf-mengalir deras di atas pusara yang bisu. Ironisnya, di saat Davian tak lagi bernyawa, ia baru mendapatkan kasih sayang yang selalu ia dambakan sepanjang hidupnya.
Jangan lupa follow sebelum membaca.
All Rights Reserved