SANG ANTAGONIS

SANG ANTAGONIS

  • WpView
    Membaca 72
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Rab, Mei 20, 2026
Kenalin gue Gabryela vexca mauret, panggil gue geby, gue siswi kelas Xll jurusan IPS, gausah tanya kenapa bukan IPA, ya karna otak gue pas-pas an, gue sekolah di SMA BAKTI. Sekilas tentang hidup gue. gue di anggep tokoh antagonis di cerita gue sendiri, orang-orang hanya memandang sebelah mata pada antagonis satu ini, padahal di dunia ini tidak akan ada antagonis jika tidak ada orang yang tersakiti, yaa aku harap kalian paham maksutku, antagonis berawal dari seseorang yang terus menerus tersakiti dan terhianati.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#132
baca
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Nala dan Mas Juragan
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Embers That Lead the Wind Back
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • 𝚁 πš„ 𝙽 ❗
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Silent Traces by the Sea
  • Be My Wife
  • The Meaning of Tomorrow | Chrollo Lucilfer x OC

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan