DAMALA
  • WpView
    Reads 18
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 6, 2025
Bagiamana rasanya menjadi orang yang biasa-biasa saja? Nala, perempuan dengan label biasa-biasa saja ini, tidak ada prestasi mentereng yang bisa dibanggakan, tidak ada wajah cantik yang bisa dipamerkan, tidak ada skills yang bisa ditonjolkan, semua serba biasa saja. Dengan kebiasa-biasaanya, ia berani jatuh cinta pada sahabat karib temannya yang terkenal dingin. Ia berusaha menunjukkan sisi dirinya, berharap laki-laki itu meliriknya. Namun, bukan sambutan atau perlakuan baik yang ia dapatkan, tetapi, malah ia makin terpojok ke dalam jurang luka masa lalu. Laki-laki itu bahkan sama sekali tidak memberi ruang untuk Nala mendekatinya, mengatakan dengan terang-terangan, bahwa Nala tidak masuk dalam tipenya. Nala, pada akhirnya memilih untuk mundur. Dia merasa tidak ada peluang untuk memperjuangkan hal ini. Dia memilih untuk mengakhiri perjalanan konyol ini, dimana hanya dia yang berperan mati-matian di dalam. Nala pergi, menata masa depannya yang sempat tersingkir, hanya karena berusaha merebut hati sang pangeran es. Kali ini, ia menetapkan dalam hatinya, bahwa ia dengan mantap tidak akan lagi jatuh cinta, dan memilih untuk menyendiri seumur hidupnya. Sampai, sebuah momen dan pengakuan, membuatnya ragu memantapkan hatinya untuk sendiri seumur hidupnya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain
  • I'm Not Just a Figuran
  • Tsundere Maniak Susu

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines