Aurora Syaquella Vanderbilt. Namanya adalah sinonim dari kekayaan, kekuasaan, dan sorotan media tanpa henti. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia bukan lagi gadis sekolah dengan seragam, atau mahasiswi dengan buku-buku tebal. Ia adalah pewaris tunggal dari dinasti bisnis Vanderbilt di Indonesia-seorang wanita karir muda yang memegang kendali atas saham bernilai mencapai miliaran rupiah.
Sejak kecil, hidupnya telah diatur dengan presisi layaknya arloji mewah. Ia dididik untuk menjadi ratu, ditakdirkan untuk memimpin kerajaan bisnis ayahnya. Setiap helaan napas, setiap langkah yang ia ambil, dirancang agar sempurna di mata publik. Wajah cantiknya menghiasi sampul majalah bisnis, gaya hidupnya yang glamor menjadi bahan perbincangan, dan status lajangnya adalah topik hangat yang selalu dinanti media.
Namun, di balik fasad kemewahan dan senyum profesionalnya, Aurora merasa dirinya bagai burung dalam sangkar emas. Dinding-dinding kaca pencakar langit kantornya adalah jeruji, dan gemerlap berlian yang ia kenakan terasa berat membebani. Ia mendambakan satu hal yang tak bisa dibeli oleh kekayaan kebebasan. Kebebasan untuk memilih, kebebasan untuk mencintai tanpa protokol.
Suatu sore, ditengah pelarian singkat dari jadwalnya yang mencekik, sebuah insiden kecil membawanya pada pertemuan tak terduga. Ia bertemu dengan seorang pria-sederhana, apa adanya, dan asing dari gemerlap dunianya. Pria yang menatapnya bukan sebagai 'Aurora Vanderbilt', pewaris konglomerat, melainkan hanya sebagai seorang wanita biasa.
Ini adalah bahaya yang ia sadari. Jatuh cinta bukanlah pilihan yang bisa ia ambil dengan mudah. Ia adalah target, dan pria manapun yang mendekatinya akan segera menjadi sorotan, dianalisis, dan dihakimi oleh jutaan pasang mata. Setiap makan siang, setiap pesan teks, setiap tatapan mata mereka akan diendus oleh paparazzi dan diubah menjadi headline dramatis.
Inilah kisah Aurora Syaquella vanderbilt.
All Rights Reserved