Story cover for Give Me a Big Hug by Rosmaidasnrt
Give Me a Big Hug
  • WpView
    Reads 277
  • WpVote
    Votes 92
  • WpPart
    Parts 29
  • WpView
    Reads 277
  • WpVote
    Votes 92
  • WpPart
    Parts 29
Complete, First published Oct 01
12 new parts
Elara Nayara tidak pernah menyangka kalau satu kejujuran yang ia ungkap menghadirkan tragedi--kematian Mama. Hal itu memaksanya berhadapan dengan Tante Wika, saudara perempuan Mama yang keramahan dan sifat penyayangnya hanya ia kenal lewat cerita.

Kenyataannya, Elara tidak mengenali Tante Wika yang ada dalam bayangannya. Kedatangan gadis berusia tujuh belas tahun itu justru disambut dengan sumpah serapah dan tatapan penuh amarah. Menghindari Tante Wika tidak bisa menjadi opsi, tetapi menghadapinya membuat Elara tidak bisa hidup tenang. Hidupnya semakin dihantui rasa bersalah yang tak terelakkan.

Apakah Elara dan Tante Wika mampu memeluk ketenangan yang diimpikan? Atau mereka justru menghancurkan satu sama lain?
All Rights Reserved
Sign up to add Give Me a Big Hug to your library and receive updates
or
#4yena
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
FateBound : Fragments of Destiny cover
Rest of my Life [END] cover
KOSTAN CEMARA cover
Teman jadi mommy cover
WE GOT MARRIED cover
Veil of Stardust cover
House of Memories cover
SEKRETARIS | JAEHYUN X KARINA cover
KOSAN 127 || 00L [SPECIAL RAMADHAN : END] cover
Rules Of Class || (00'line & Others) cover

FateBound : Fragments of Destiny

11 parts Ongoing

Alex, pemuda itu membuka matanya. Tidak ada ranjang rumah sakit. Tidak ada suara mesin medis penyambung hidupnya. Tidak ada nyeri yang seharusnya menahannya di ambang kesadaran. Yang ada hanyalah langit luas tanpa batas, membentang di atas padang hijau yang tak ia kenali. Udara yang ia hirup terlalu segar, angin yang berembus terlalu tenang. Semuanya terasa begitu nyata. Di tangannya, sebuah alat mirip GPS survival tergeletak dengan cahaya redup berdenyut di permukaannya. Kotak kecil menempel di belakangnya, tampak seperti ruang penyimpanan yang menunggu untuk diisi. Tepat di sampingnya, sebuah kartu emas berkilauan. Cahaya di permukaan kartu itu seolah bergerak, berpendar seperti sesuatu yang bernapas. Dingin namun tak sepenuhnya asing. Seakan memanggil. Tanpa berpikir, ia mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Dalam sekejap, alat di tangannya bereaksi. Cahaya meledak keluar yang melayang di udara. Garis-garis berpendar menghubungkan titik-titik yang tak ia kenali, berputar dan menyesuaikan diri, seolah mencoba memahami keberadaannya. Dan saat itu juga, ia menyadarinya. Ini bukan mimpi. Sebuah suara menggema di kejauhan. Suara yang membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata. Ketika Alex menoleh, seseorang telah berdiri di sana. Sosok asing itu menatapnya. Menunggunya.