Healing Scars

Healing Scars

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 1, 2025
Ana lahir tanpa diminta. Ia tumbuh di dunia yang bahkan sejak awal menolaknya. Ibunya menunduk malu setiap kali nama Ana disebut, sementara keluarga besar memandangnya seolah ia bukan manusia, melainkan aib yang harus disembunyikan. "Anak haram," begitu bisik-bisik yang menempel di telinganya sejak ia bisa mengerti kata-kata. Tidak ada pelukan. Tidak ada kasih sayang. Tidak ada tempat yang benar-benar menganggapnya anak. Ana belajar menahan tangis di balik pintu kamar yang dingin. Ia tahu, kalau pun ia menangis, tak akan ada tangan yang menghapus air matanya. Dunia mengajarinya sejak kecil untuk kuat-kuat bukan karena pilihan, tapi karena tidak ada yang akan menopangnya jika ia jatuh. Kadang Ana berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Parasnya sederhana, lembut, tidak secantik orang-orang yang selalu dipuja, tapi ada sesuatu di wajahnya-kesedihan yang tidak bisa disembunyikan. Ia sering bertanya dalam hati: "Kalau aku lahir bukan karena cinta, apakah aku layak dicintai?" Baginya, hidup hanyalah fana-singkat, dingin, penuh luka. Tapi entah mengapa, dalam kefanaan itu, ia tetap menemukan setitik keindahan kecil: langit senja, daun yang berguguran, atau tatapan matanya sendiri yang meski retak, tetap berkilau.
All Rights Reserved
#7
cintadalamluka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • I'm Not Just a Figuran
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines