Novel ini berpusat pada empat sahabat tak terpisahkan: Adam, sang ahli strategi yang selalu berpikir tiga langkah ke depan; Bagas, si pemberani yang mengandalkan insting dan kekuatan fisik; Tirta, pengamat jenius yang mampu melihat pola dalam kekacauan; dan Angga, si karismatik yang bisa memanipulasi situasi sosial untuk keuntungan mereka. Kenakalan legendaris mereka di sekolah lama akhirnya membuat mereka dicap sebagai "aset gagal" oleh negara, dan mereka pun dikirim ke Akademi Pelita Bangsa.
Akademi ini adalah sebuah sangkar baja yang disamarkan sebagai kesempatan emas. Tersembunyi dari dunia, seratus siswa "terpilih" dari seluruh negeri dididik di bawah kurikulum paling intensif yang pernah ada. Namun, tujuan sebenarnya dari akademi ini bukanlah pendidikan, melainkan seleksi alam yang brutal.
Setiap bulan, sebuah "Upacara Peringkat" diadakan. Peringkat siswa ditentukan oleh kombinasi nilai akademik, kepatuhan, dan metrik rahasia lainnya. Sepuluh siswa di peringkat terbawah-posisi 91 hingga 100-akan dipanggil ke depan. Mereka akan "diberhentikan". Keesokan harinya, sepuluh siswa baru akan tiba untuk mengisi tempat tidur mereka yang kosong, tanpa tahu nasib pendahulunya.
Adam dan kawan-kawannya dengan cepat menyadari kengerian sistem ini. "Diberhentikan" adalah sebuah euphemisme untuk eksekusi. Akademi Pelita Bangsa adalah mesin penyaring manusia, yang secara sistematis membuang mereka yang dianggap lemah atau tidak berguna setiap tiga puluh hari.
Kini, hidup mereka adalah perlombaan tanpa henti melawan waktu dan satu sama lain. Setiap ujian adalah medan pertempuran, setiap tugas kelompok adalah aliansi sementara, dan setiap teman adalah calon saingan. Ikatan persahabatan mereka, yang dulu menjadi sumber kekuatan, kini menjadi kelemahan terbesar mereka. Bagaimana mereka bisa bekerja sama untuk memastikan keempatnya selamat, ketika sistem secara matematis dirancang untuk memecah belah dan mengeliminasi?
All Rights Reserved