Anya Callista, Junior Copywriter bawel dan clumsy, tiap hari jadi korban ledekan Nolan Baskarian, Senior Creative Lead absurd, di kantor "Pagi‑Pagi Pigi". Sticky note warna pink, pulpen jatuh, sampai typo tiap ketik jadi bahan "stand-up" harian dan komentar random-nya pun sukses bikin tim tepuk jidat.
Ketika mereka dipaksa memimpin presentasi besar untuk klien penting, rutinitas "saling sebel" berubah jadi situasi mendesak: brainstorming bareng hingga lembur sudah jadi makanan sehari-hari. Di tengah burnout, Anya tak sengaja kirim voice note isi curhat tentang betapa "baiknya Nolan" ke Nolan-padahal itu seharusnya ke Bella.
Yang terjadi selanjutnya? Nolan tidak meledek, dia justru diam. Diamnya itu bikin Anya tambah salah tingkah. Lama‑lama, sikap Nolan berubah. Usilnya tetap melekat, tapi kini diselingi perhatian kecil.
Di tengah kegilaan tim Pagi-Pagi Pigi, seperti sebut saja si Bella tukang ngacak font, Sergio si visual designer serius tapi kolektor meme, dan David yang COD barang absurd tiap pekan.
Namun, Anya dan Nolan dipaksa menghadapi sesuatu yang membuat keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Perihal jantung yang acap kali berdebar tiap kedua bola mata itu bersitatap, hingga seakan kehilangan seluruh kosakata tiap kedua tangan saling bersentuhan tanpa sengaja.
Banyak pertanyaan acak yang terbang di kepala Anya dan Nolan. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta, atau hanya karena saling terbiasa?
Dan pada akhirnya, di antara revisi deadline, tawa ledek harian, dan kekacauan kantor yang tak ada habisnya, dua orang yang awalnya cuma pengganggu jadi tahu, kalau rutinitas ganggu‑mengganggu tiap hari ternyata bisa berubah jadi sebuah rasa.
Abigail namanya, putra dari Dominic Salazar. Bocah lima tahun yang suka sekali dengan apel, hidupnya berubah setelah ibu membawanya pergi ke sebuah rumah mewah.
"Ini, Abigail! Salam kenal!"