Ada orang-orang yang datang ke hidup kita bukan untuk menetap, tapi untuk memperbaiki apa yang rusak, lalu pergi setelah semuanya rapi. Bagi Pharita Cenayu Anggala, orang itu bernama Mahasagara Ruka. Ruka datang bersama rombongan mahasiswa KKN lainnya, membawa gulungan kertas denah, meteran, dan aroma kopi yang selalu tertinggal di koridor sekolah. Dia adalah definisi dari segala sesuatu yang cukup. Cukup tenang, cukup sopan, dan cukup baik untuk membuat Pharita yang masih berseragam putih-abu-abu, jatuh cinta untuk pertama kalinya. Pharita mengagumi cara Ruka menatap dunia---cara laki-laki itu menghargai setiap garis yang ia gambar dan setiap orang yang ia sapa. Namun, di antara obrolan di bangku taman literasi dan bantuan kecil memegang meteran di bawah terik matahari, Pharita sadar akan satu hal: Ruka adalah sebuah bangunan yang sudah jadi, sedangkan ia hanyalah pondasi yang baru mulai digali. Ini bukan sekadar cerita tentang anak SMA yang naksir kakak mahasiswa. Ini tentang Pharita yang belajar bahwa cinta pertama tidak selalu berakhir dengan memiliki. Kadang, cinta pertama adalah guru terbaik yang mengajarkan kita cara berjalan menuju kedewasaan, meski harus dengan kaki yang sedikit gemetar karena kehilangan. "Mas Ruka itu seperti garis cakrawala. Kelihatannya dekat, bisa dilihat, tapi sejauh apa pun aku berlari, dia akan tetap berada di batas yang tak bisa kusentuh."
More details