Bulannya Indah, Ya?

Bulannya Indah, Ya?

  • WpView
    LECTURAS 1
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, oct 17, 2025
WpInfo
Ficción
Romance
Di setiap malamku, aku hanya bisa berbaring di kasur, menatap bulan dari balik jendela kamar rumah sakit. Terkadang aku bertanya dalam diam: apakah aku bisa menikmati bulan tanpa harus melihatnya di balik kaca? Namun, pertanyaan itu tak pernah mendapat jawaban. Sampai akhirnya, aku bertemu dengannya. Kami berkenalan di taman rumah sakit-tempat aku biasa duduk di kursi roda, menikmati sedikit cahaya matahari. Aku memang tidak bisa beraktivitas seperti orang lain karena penyakit yang membuat kakiku lumpuh. Itu sebabnya, satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah memperhatikannya melukis bulan di tengah siang bolong. Aneh memang, melukis bulan saat matahari bersinar terang. Tapi entah kenapa, dari situlah semuanya dimulai. Dari sekadar rasa ingin tahu, menjadi percakapan kecil, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat. Hingga akhirnya, takdir memisahkan kami. Ia yang selalu menemaniku dalam kesunyian, dan menjadi alasanku untuk terus berharap-bahwa mungkin, suatu hari nanti, aku bisa melihat bulan secara langsung, tanpa kaca yang memisahkan kami..
Todos los derechos reservados
#18
cahayabulan
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido