Tentang Abra dan Theo, dua cowok yang harusnya cuma sahabatan, tapi takdir punya plot twist lain. Cinta itu datang sunyi, tumbuh dari jokes receh, malam-malam begadang, dan pemahaman tanpa perlu banyak kata. Buat Abra, Theo itu center of the universe -nya.
Abra berjuang, nggak pakai janji muluk, tapi pakai kehadiran yang setia dan perhatian yang detail. Dia ngejar Theo, melawan inner voice yang bilang ini salah, cuma demi satu ending yang dia mau mereka bersama.
Tapi, cinta nggak selalu tentang memiliki.
Abra menyaksikan sendiri, dari jarak yang menyakitkan, Theo menemukan kebahagiaannya yang sejati. Bukan di pelukannya. Theo bersinar. Matanya yang selalu ia kenal teduh, kini menyala ketika membicarakan masa depannya yang baru, masa depan yang tak melibatkan Abra.
Saat perpisahan itu di depan mata, Theo mengajukan satu yang kejam tapi tulus. Theo tahu Abra punya mata seorang seniman, yang pandai menangkap. Theo meminta Abra untuk mengabadikan momen kebahagiaannya -bahkan setelah mereka resmi selesai. Ini permintaan untuk menjadi saksi bisu, seorang fotografer, di acara orang lain.
Dengan hati yang hancur, Abra mengambil keputusan paling berat. ya, dengan menyerah dan menepati janji itu. Bukan karena lelah, tapi karena dia paham, cinta sejati itu tentang melihat orang yang kita cintai bahagia, bahkan kalau kita harus menelan pahit.
Kisah Abra dan Theo adalah tribute untuk pengorbanan. Abra melepaskan Theo, membiarkannya terbang. Kini, dia memegang kamera, mengabadikan bahwa kebahagiaan Theo itu nyata. Dia kalah dalam cinta, tapi dia menang sebagai manusia yang memilih cinta tak memiliki. Abra mungkin kehilangan pasangannya, tapi dia memenuhi janji, membuktikan bahwa cinta yang paling tulus adalah yang mampu mengabadikan kebahagiaan orang yang dicintai, meski itu harus mengorbankan miliknya sendiri.