Kita semua adalah para pemimpi yang menatap bintang. Sejak kecil, kita diajari untuk menggantung cita-cita setinggi langit, meraih cahaya yang paling terang, dan menjadi sosok yang bersinar. Kita mengagumi keutuhan, kesempurnaan, dan keindahan dari kejauhan. Itulah Bintang kita.
Namun, di bawah kaki kita, di jalan yang kita lalui setiap hari, tersebar Serpihan Kaca. Ketidaksempurnaan. Kegagalan. Patah hati. Kecewa. Luka yang tajam, yang terkadang tak terlihat tapi begitu terasa sakitnya saat terinjak. Kita sering diajari untuk menghindarinya, untuk membuangnya jauh-jauh.
Cerita ini bukan tentang itu.
Cerita ini bukan tentang memilih salah satu. Bukan tentang membuang serpihan kaca agar bisa menggapai bintang. Bukan.
Ini adalah cerita tentang memeluk keduanya. Tentang memahami bahwa serpihan kaca yang tajam itu, jika dilihat dari sudut yang tepat, juga bisa memantulkan cahaya bintang. Bahwa luka dan kegagalan bukanlah akhir, melainkan bahan bakar. Bahwa hati yang pernah retak justru punya lebih banyak celah untuk dimasuki cahaya.
"Bintang dan Serpihan Kaca" adalah teman seperjalanan. Untuk recordan saat kita lupa, bahwa kita terbentuk dari keduanya.
All Rights Reserved