Transmigrasi Bocah Polos jadi CEO

Transmigrasi Bocah Polos jadi CEO

  • WpView
    Reads 301
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 8, 2025
Caello Mavendra, remaja SMA berusia 17 tahun, dikenal karena dua hal: kepolosannya yang tak terhingga, dan sifatnya yang sangat cengeng. Cukup melihat kucing kejepit, air matanya langsung membanjir. Satu detik ia sedang menangis karena game-nya lag, detik berikutnya ia terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh, mencium aroma aftershave mahal dan kain sutra asing. Ia membuka mata. Sebuah kamar tidur seluas lapangan basket menyambutnya. Di depan cermin raksasa, berdiri sosok yang membuat Caello memekik tertahan. Pria itu tinggi, tegap, berotot, dan memiliki tatapan mata sehitam malam yang dingin dan menusuk. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, tetapi auranya begitu kuat dan menekan. Itu adalah Marvello Narendra. CEO Narendra Group yang kejam, tegas, dingin, dan terkenal tidak memiliki hati. "A-aku... aku di mana?" gumam Caello, suaranya yang halus kini berubah menjadi bariton berat. Ia mulai gemetar. Ini pasti mimpi buruk. Ia mencubit tangannya, terasa sakit, dan air mata mulai menggenang. "Kenapa aku di tubuh om-om ini?!" jeritnya dalam hati.
All Rights Reserved
#504
bocah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines