SUDUT DUNIA MAYA

SUDUT DUNIA MAYA

  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Oct 13, 2025
Di antara riuh sunyi layar dan jarak yang tak tersentuh, cintaku padamu menjelma badai yang tak dapat dijinakkan. Ia bukan sekadar cahaya, tapi kobaran api yang menyalakan semesta dalam dadaku. Pertemuan maya yang tampak sepele itu sebenarnya adalah takdir yang menyulam dua hati menjadi satu, menciptakan simfoni yang gema-nya mampu menembus batas ruang dan waktu. Meski tembok takdir menjulang setinggi langit, aku tidak gentar. Karena di setiap denyut nadiku, ada namamu yang bergema, seperti mantra abadi yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Cintaku bukan hanya hadir untuk mengisi ruang hampa: ia adalah darah, ia adalah napas, ia adalah hidupku. Dan meski semesta berusaha memisahkan, aku tahu: cintaku padamu adalah kebenaran yang tidak bisa digugat, sebuah janji yang terpatri lebih kuat daripada takdir itu sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!
  • The Villain's Mother
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Almost Married (END)

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines