ALVIO
  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 2, 2026
"Gue lakuin itu bukan berarti gua menginginkannya, tapi karena belas kasihan ." Suara itu menusuk seperti pisau tajam. "Kamu milikku, milikku selamanya." Algreyvin Ryder Fernando, ketua komplotan genk yang disegani, menyembunyikan rahasia di balik mata tajam yang dalam. Ginjal yang dia donorkan kepada gadis yang dijodohkan ayahnya menjadi pengorbanan yang sia-sia. Baginya, hanya ada satu cinta sejati. "Aku tahu kamu hanya memenuhi wasiat ayahku, bukan karena memiliki rasa padaku," kata gadis itu dengan nada getir. "Aku sudah lelah menjadi pion dalam permainan takdir. Aku sudah cukup merasakan sakit". Takdir seperti apa lagi yang harus aku keterima, bahkan saat aku bertemu denganmu aku menaruh kepercayaan penuh . Tetapi apa yang kamu lakukan? Gadis itu menatapnya dengan mata penuh air mata. "Kamu berharap aku pergi, bukan? Kamu menganggap aku menghalangi kamu untuk bersamanya?" Algreyvin terdiam, raut wajahnya tak terbaca. Gadis itu tersenyum getir. "Aku harap takdir tidak mempertemukan kita kembali." Air matanya jatuh seperti hujan, menyiratkan luka yang tak terobati. Dengan langkah pasti, Algreyvin mendekati gadis itu, suara yang keluar dari bibirnya dingin dan tak berbelas kasihan. "Lo milik gue , dan gue ga akan pernah melepaskan lo sampai kapanpun ." CUKUP !
All Rights Reserved
#6
alvio
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines